Semua berawal dari sebuah Blackberry. Sebuah kisah klasik manis yang aku rasakan hingga sekarang. Sebuah awal perkenalan, dengan sang putri. Sang putri bukanlah suatu perumpamaan, melainkan nama seseorang. Dia lebih muda dariku, tapi mampu mencuri hatiku hingga sejauh ini. Berawal dari invite invite’an PIN BB dengan junior sekolahku, namanya Sasa. Yaa add PIN BB menjadi syarat wajib menjadi gaul zaman sekarang. Pada awalnya di sekolah aku sering melihat Sasa berjalan dengan seseorang. Yang menurutku memang penuh pesona, berkharisma, manis, tak bosan dipandang, tentunya menyejukan hati. Dialah Putri. Orang yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, dan tentu cerita panjang cinta kami.
Kembali lewat Blackberry, aku beranikan diri ‘mengundang’ PIN Blackberrynya. Tak butuh waktu lama, dia menerima undanganku. Betapa bahagianya kurasa saat diterima PIN BB itu, bisa kalian bayangkan betapa lebih bahagianya aku sekarang.
Belum timbul keberanianku untuk mencoba membuka ‘obrolan’ dengannya. Aku masih gugup, aneh. Aku merasa seperti anak-anak yang baru bisa merasakan cinta. Jangan-jangan…. Oh tidak. Tidak salah lagi, aku telah jatuh cinta. Tapi aku mendapat kesempatan untuk membuka ‘obrolan’ dengannya, karena bertepatan dengan hari kelahiran dia. Aku ucapkan “Selamat ulang tahun” tak lupa dengan beberapa harapan kecil khas ulang tahun. Aneh, sebenarnya aku tak perlu sampai harus gugup kalau hanya menanti balasannya. Tapi gugup itu benar-benar terasa. Memang tak perlu lama menanti balasannya, tapi yang ku dapat hanya ucapan seadanyaa. Tak apa ini kan baru kali pertama.
Dia punya satu ciri khas, yang jarang kutemui di masa sekarang. Disaat banyak orang lain rela berkorban banyak asalkan paket internet dalam Blackberrynya terus aktif. Tidak dengan dia, dia termasuk yang jarang sekali mengaktifkannya. Aku tak tau jelas apa alasannya, namun hal ini semakin membuat jalanku mendapatkannya tidak mudah. Perlu sedikit kesabaran dan usaha ekstra. Karena dibalik jarangnya ‘obrolan’ kami berlangsung, juga balasan yang kudapat begitu dingin. Semangatku sempat pudar, dan pesimis kurasakan. Karena semua semakin terasa mustahil untuk mendapatkannya, terlebih karena aku kurang percaya diri dengan tampangku. Tapi kembali kubuka kamusku sendiri, dan tak kutemukan kata menyerah. Waja sampai kaputing! Dan berkat semua kesabaran, usaha, serta keisengan ku untuk menanyakan alamat rumah dirinya dan mencoba mengajak bertemu. Yang berbuah manis dengan pertemuan pertama kami. How sweet that moment
Cuaca dingin masih menyelimuti kota. Tapi gairahku begitu menggelora panas menjelang pertemuan pertama dengan sang Putri. Angkringan sego kucing kupilih sebagai tempat kami berpadu temu. Bila dibilang cinta kami bersemi di angkringan sego kucing, memang benar adanya. Tak perlu tempat mewah untuk menyemikan dua perasaan, yang diperlukan hanya rasa, karena romantis tak melulu soal biaya.
Sesampai di tempat, kami memesan tak terlalu banyak makanan, aku merasa gugup kurasa diapun juga begitu. Masih terasa canggung untuk saling bertukar kata atau bicara, sampai akhirnya malam semakin larut dengan gelapnya. Aku pun mengantarkannya pulang. Malam pertama yang indah
Tapi tak selamanya berjalannya suatu hal selalu mudah dan baik. Ada kalanya badai masalah, tantangan dan cobaan menghampiri. Begitu juga dalam hubungan kedekatanku dengan Putri, suatu masalah dating pada kami. Sang Putri tak ingin berbicara padaku, seakan dia tak perrnah mengenalku atau aku tak pernah ada dalam kehidupan. Semua berlangsung dua hari, mungkin singkat dalam nominal tapi terasa panjang dalam hal penantian hati yang jatuh cinta. Sempat bingung harus berlaku apa, segala cara pun kucoba. Sampai pada akhirnya aku nekat mendatangi rumahnya pukul 12 malam. Aku bodoh? Tidak! Aku hanya sedang jatuh cinta. Aku mohon maaf darinya, memang kudapat tetapi seakan setengah hati. Tak mau menyerah begitu saja, kuberi dia pengertian dan segala penjelasan. Sampai akhirnya dia luluh dan menerima ku kembali.
Pertengkaran itu membuat ku termotivasi, jangan mengulur-ulur waktu. Akan kunyatakan cinta secepatnya. Hatiku berujar kalimat itu setiap waktu. Kusiapkan segalanya, kubuat sedikit gambar yang lebih mirip corat coret wajah kami berdua dan satu boneka. Perasaan gugup kembali menghampiri, karena untuk pertama kalinya aku menyatakan cinta pada seorang gadis langsung dihadapannya. You’re the lucky ones my baby
Saat semua persiapan telah siap, aku langsung bergegas menuju rumahnya. Semakin terkejut aku karena disana ada teman-temannya sedang mengerjakan tugas kelompok, tapi sudah kepalang tanggung untuk bepaling tubuh. Kunyatakan saja langsung. Segala yang kurasa, cinta yang telah lama bersemi dalam pikiran dan menguasai jiwaku. Kulihat ekspresi terkejut di wajah manisnya, dan dia menjawab akan memberikan jawaban yang aku mau nanti lewat pesan. Dengan getar gugup yang masih terasa, aku pun pulang. Aku mengira akan menanti lama, sesaat setelah aku pulang jawaban iya pun kuterima. Tubuhku seakan melayang di udara, ingin teriak bahagia sekeras-kerasnya, tak bisa kuhentikan kaki yang ingin berdansa samba. Karena cintaku diterima! Tanggal 2 Januari 2011, adalah hari bersejarah tersebut.
I Love You Putri Shanty Yudhawati, Aku sangat menyayangi kamu J
Storyline inspired by: Rizky Perdana & Putri Shanty Y
Long live your love, hommie! Sincerely, ghost writer.
Malam berlangsung ramai. Pemuda-pemudi, sibuk dengan aktivitas pasca terawih. Tak kuyakin semua dari mereka “benar-benar” melaksanakan solat malam rutin tahunan itu. Tapi seragam yang dipakai semua sama, baju koko plus celana bahan panjang khas pesantren. Semua digunakan agar mendapat izin beranjak dari rumah. Tak jauh berbeda dengan yang lain. Kami yang notabene masih muda, tak ingin tertinggal dari keramaian kota malam itu. Walaupun kami sedikit berbeda dengan yang lain, kami tak memakai baju koko. Kami telah bertukar pakaian di rumah, dengan pakaian biasa khas anak muda.
Malam ini terasa berbeda dengan biasa, karena salah satu dari kami akan merayakan ulang tahunnya. Sudah menjadi tradisi bila yang berulang tahun harus dilumuri kotoran. Karena pada prinsip ulang tahun kelompok kami, pantang pulang sebelum kotor. Kami sudah menyiapkan segala sesuatu untuk mengotorinya.
Jarum jam telah menunjukan pukul duabelas, saat-saat pengotoran akan segera dimulai. Sang korban telah terikat rapi bak parcel dengan tali rumput cina. Ramuan-ramuan kotor telah siap menanti untuk disiramkan dalam botol mineral. Tapi tak muda bila tak jahil, kami pindahkan sasaran kepada seorang yang lain diantara kami. Sebut saja dia Dinda(red. Bukan nama sebenarnya) Dia memang tidak berulang tahun, tapi kami telah melewatkan tradisi pengotoran saat ulangtahunnya.
Kami pancing dia untuk berphoto bersama, maksud kami agar kami bisa menyergapnya dari belakang. Haaapp. Sergapan pun dimulai, ada kurang lebih lima sampai tujuh orang mencoba menahan tubuhnya. Namun sayang kekuatan tubuhnya lebih kuat dari kami, dia memang seorang pemain futsal yang memiliki fisik yang kuat. Dia pun terlepas, dan langsung mengambil langkah seribu juga lupa untuk memakai alas kakinya.
Posisi kami saat ini berada di lapangan basket Rebatig kebanggan kota kami. Dia lari tunggang langgang meninggalkan kerumunan kami, menuju arah perumahan banjarbaru 3. Kami tak tinggal diam, kami mengejar. Tapi kecepatan kami belum sebanding dengan dia. Akhirnya, beberapa dari kami memutuskan menaiki kendaraan untuk mengejarnya mengelilingi perumahan tersebut. Tak kurang dari lima atau enam putaran untuk mencari dia. Ternyata, dia bersembunyi di mushola di JL. Kembang Bakung, banjarbaru 3. Tapi dia belum menyerah, di dalam kejaran kami dengan nafas yang tersengal-sengal dia masih terus berlari. Smapai di sekitaran JL. Kembang Sepatu, masih di sekitaran banjarbaru 3. Namun langkahnya terhenti, kami ikut terkejut melihat dia berhenti dari pelariannya. Kakinya yang tak diselimuti alas kaki tertancap paku payung berkarat di depan rumah salah seorang warga. Melihat peristiwa itu, kami refleks untuk membawa korban ke rumah sakit Banjarbaru. Kami tak mau gegabah dan salah langkah untuk mencabut sendiri paku tersebut, karena karat yang ada pada paku tersebut.
Singkat cerita, di Unit Gawat Darurat rumah sakit Banjarbaru, si korban mendapat pertolongan. Memang paku payung ukurannya tak lebih besar dari sebatang rokok, tapi apabila berkarat bahayanya bisa mematikan. Beberapa hari, sang korban menjalani pengobatan untuk memulihkan luka tusuk tersebut.
Tulisannya serius bengat kan. Ini buat dikirim ke artikel kota kemaren.
Sebenarnya dua hari lagi Ujian nasional akan berlangsung. Tapi bukan masalah ini yang ingin aku bahas.
Semua memang tak disengaja, berawal dari pembajakan handphone yang sering anak muda seperti kami lakukan.
Aku sebenarnya telah ‘Lost contact’ dengannya, sangat. Tak pernah ada lagi tegur sapa, obrolan manis dalam sebuah jaringan Chatting Blackberry, tapi hanya tatapan dari kejauhan yang masih kulakukan. Dan dua hal sebelum tatapan itu terakhir aku lakukan saat………….. Ah sudah lah. Tak perlu untuk dibahas.
Oh iya, sampai dimana tadi. Hmmm pembajakan handphone
Teman ku dengan sengaja mengetik kata-kata manis padahal kurasa sedikit gombal dan menjijikan. Tapi semua sempat ku gagalkan sebelum sempat terkirim.
Aku baca isi tulisan temanku tadi, aku tertawa. Sungguh menjijikan
Kuhapus tulisan itu, tetapi bodohnya aku. Jemariku terpeleset dan menekan tombol ‘Send’ BODOH! Bodoh sekali, terlanjur sudah kata-kata ucapan ulang tahun itu akhirnya terkirim padanya.
Oh iya, aku lupa memberitahu bahwa hari itu adalah hari ulang tahunnya. Aku tak ada niatan untuk mengucapkannya hari itu. Tapi nasi sudah terlanjur menjadi nasi goreng, eh bukan. Menjadi bubur
Walaupun aku tak mengucapkan, tapi sebenarnya. Aku telah mengucapkannya melalui status Blackberry Messenger ku. Tapi tak mungkin sevulgar itu kutampakkan. Kubuat orang harus sedikit berpikir saat membacanya, bahkan harus berpikir keras. Aku ganti semua huruf dalam kalimat itu menggunakan angka, kuharap tak ada yang dapat memecahkannya.
Oke lanjut, tak berapa lama setelah pesan ‘tak sengaja’ itu terkirim. Handphone ku berdering, dan benar saja. Dia membalas pesanku,dan mengucapkan terimakasih.
Aku agak bingung harus memberi balasan apa sebenarnya, tapi kubalaslah dengan apa adanya. Dan tak pernah kusangka, karena ‘ketidaksengajaan’ itu membuat kami kembali berkomunikasi. Ow men, How i miss with you
Keesokan harinya, tepatnya kemarin malam. Dia memberi pesan kepadaku. Tebak apa? Ya, dia mengundangku dalam pesta ulang tahunnya. Aku sempat bingung sendiri. Secara, aku tak akrab dengan teman-temannya. Tapi Tuhan berkata lain. Tuhan menginginkan aku hadir dalam pesta itu, ditandai dengan perkataannya yang mengijinkan ku untuk mengajak teman-temanku. Oke, aku akan datang.
Pertama, aku ajak teman-teman wanita yang kurasa akrab dengan dia. Mereka mau, namun sayang. Mereka tak bisa, karena mungkin ujian nasional terlalu dekat sekarang. Oke, aku belum habis akal. Ku ajak lah teman-teman ku yang lain. Aku iming-imingi mereka dengan janji bahwa akan ada makanan gratis dan banyak gadis cantik disana. Karena aku tau, dua hal itu pasti sukses meluluhkan mereka.
Dan benar saja, mereka mau.
Hari ini, tepat beberapa jam yang lalu. Kami menuju pesta tersebut. Sepanjang perjalanan, teman-temanku dipenuhi tanda tanya. Kemana kami akan menuju
Dan betapa terkejutnya mereka, saat kami tiba di tempat pesta berlangsung. Mereka terkejut bukan karena dandanan kami tak pantas untuk pesta, kami sangat tampan malam ini. Mereka hanya bingung harus bertingkah bagaimana di pesta para junior kami. Tapi kepalang tanggung untuk pulang, mau tidak mau. Kita harus ikut acara ini
Kami masuk, dan langsung duduk tanpa banyak suara. Para penghuni pesta agak sedikit terkejut dengan kedatangan kami, karena kami adalah senior mereka. Dan kami sangat tampan. Kalimat terakhir mungkin fiktif
Oke, acara berlangsung. Pertama aku melihat Dia, Dia sangat cantik. Seakan membangkitkan kembali hasrat ku yang telah ku pendam. Tak dapat dipungkiri, malam ini dia secantik supermodel dan semanis gula jawa. Aku tak bisa melepas pandanganku dari Dia. Sungguh
Aku merasa sangat-sangat asing dalam pesta tadi. Gaya ku mati
Tak banyak kata yang bisa kuucapkan, dan aku tak tau bagaimana harus bertingkah. Maybe, this is what called love is
Acara berlangsung meriah, aku senang melihat rona kebahagiaan di wajahnya saat tadi. Senyumnya yang tak henti dia pasang diwajahnya sepanjang pesta berlangsung
Saat waktu makan-makan tiba, semua berkumpul menuju meja tempat makanan tersedia. Sedangkan kami. Hanya berdiri di pinggir menanti yang lain selesai, bukan karena kami malu. Kami hanya canggung
Tiba-tiba saja, dia datang menghampiri kami. Tentu sebagai pemilik acara tak ingin ada tamunya yang tak menikmati hidangan. Dia memaksa kami untuk makan, padahal kenyataannya kami sudah sangat kenyang. Aku merasa tak enak dengan paksaannya. Aku pun mengambil beberapa hidangan. Dia… Dia yang menemani ku mengambilnya. Dan teman-temanku pergi keluar, aku tau apa yang mereka lakukan.
Saat berdua, aku sedikit gugup. Aku bingung harus berbuat apa. Aku mencoba menutupinya, tapi itu malah membuat gugup semakin nampak. Oh goat damn shit
Aku pun makan, dan Dia berlalu untuk menghampiri teman-temannya. Aku tak lagi konsetrasi, ingin rasanya aku langsung pulang saja. Mencuci kaki, menggosok gigi, dan tidur. Berharap ini hanyalah mimpi setengah basah. Tapi urung kulakukan. Aku tak mudah menyerah
Makan sudah selesai, kuhampiri teman-temanku diluar dan mengajak mereka kembali masuk untuk berpamitan. Aku sudah terlalu gugup
Tapi saat kami masuk, pesta tenga berada dalam ‘photo session’ Ya. Hal yang sangat wajib dilakukan oleh segerombolan wanita
Cukup lama kami menati kesempatan untuk sekedar berpamitan pulang. Tapi tak etis kalau kami langsung pergi tanpa permisi. Kami bukan jelangkung
Dan, kesempatan itupun tiba. Teman-temannya berlalu. Kami langsung mendatanginya, mengucapkan terimaksih dan selamat ulang tahun. Tapi, aku mengambil kesempatan untuk berpotret berdampingan dengannya yang berdandan seperti Ratu malam ini. Walaupun sempat aku benci melihat ekspresinya, mungkin itu karena banyolan dari temannya. Cepreetttt, satu potret kudapat. Biarpun ekspresi nampak sangat gugup, tentu aku bahagia mendapat potret ini.
“Maybe i’ll be failed to Move On. But this will be a bittersweets choice i take. I wish”
Inspired by true story Of Dinda Noor Ali Julian
stupidizonk
Finally! Amara prints now in my shop. Limited edition of 50 prints. That’s it.
Find her here.
Amateur photograph.
Location: Mandiangin hill Banjarbaru, South Borneo. Indonesia
Using: Blackberry phone camera
Taken by: stupidizonk